Having stayed at home for almost three weeks made me always think what activity that I love to do. It doesn't mean that I have nothing to do, but I find out activities that always make me happy at the moment. And one of those activities is watching dorama!! It's really been ages I haven't watched Japanese drama. When I was in high school, I loved to watch it. But, as time passed by, I didn't watch it again. About a week ago I randomly picked a dorama title on a streaming media, it's on VIU anyway, I picked "a girl and three sweetheart", then, wow, I love the drama since episode 01. Okay, I continue watching it until I see Kento Yamazaki in that drama, OMG! I think I have a new crush now lol. Anyway, I finish watching that drama happily lol. Then, I watched another drama, "koi wa Tsuzuku yo Doko Made" OMG... I really love that drama too!
I highly recommend those drama if you love japanese drama.
***
Anyway, I think this period of time is really a time to find out again ourself. Finding what we really love to do in this condition. It doesn't matter whether that activity will make you productive or rich, your happiness is really the matter. Do you agree with me?
***
Now I continue to watch another dorama.
***
Jakarta, 19 April 2020
19/04/20
15/01/20
Iming-iming dan foya-foya
Di suatu perayaan lebaran saat umurku mungkin kurang lebih tujuh atau delapan tahun, aku mendapatkan rezeki nomplok, wkwkwkw. Gimana nggak nomplok, di lebaran-lebaran sebelumnya, aku nggak pernah mendapatkan angpao. Karena itu memang bukan budaya di keluargaku. Ayahku nggak pernah ngasih iming-iming hadiah kalau aku berhasil puasa full. Iming-iming di yang lain juga nggak pernah. Iming-iming benar-benar bukan budaya di rumahku, haha. Selain itu, di lingkungan tetanggaku di rumah yang lama juga nggak pernah ada yang bagi-bagi uang lebaran untuk anak-anak. Jadi, saat itu keluarga kami baru aja pindah rumah ke rumah baru. Nah, di lingkungan rumah baru ini ternyata ketika lebaran anak-anak kecil banyak dapet angpao dari hasil ngider salam-salaman. Saat itu dompetku langsung tebel banget kayaknya, hahahaha.
Sebagai anak yang juga jarang dikasih uang jajan berlebih, aku langsung jajan banyak banget dong yah. Beli bakso, beli es krim, beli ini, beli itu, pakai uangku sendiri nggak minta orang tua.
Namun, kemudian ayahku bilang: kalau punya uang jangan langsung dibeliin segala macam kayak gitu, Allah nggak suka sama orang yang kaya gitu.. (Karena ngeliat aku jajan ga berhenti, hahaha).
Perkataan ayahku itu sama sekali nggak dengan nada marah. Akupun menerima ucapan itu jadi lebih ke sadar daripada sakit hatinya. Aku malah beneran sadar, ohiya juga ya. Kemaren-kemaren nggak jajan banyak juga biasa aja. Jadinya dari situ aku belajar untuk mengerem keinginan jajan macem-macem walaupun mampu (sahelah). Hahhaha.
Dan ketika dewasa aku jadi baru ngeh, mungkin ucapan ayahku itu yang terpatri terus sampai sekarang. Allah nggak suka hambaNya yang foya-foya beli ini beli itu walaupun mampu. Bagusnya aku jadi lebih bisa mengerem keingin belanja, (kayak gini aja udah di rem ya lol, gimana ga di remnya). Kurangnya, jadi mungkin kaya lebih kurang terobsesi sama harta duniawi, lol. Namun, terobsesinya mungkin ke urusan jalan-jalan dan investasi. hahahaha. Amiin.
Depok, 16 januari 2020.
13/01/20
Tentang Nama
Waktu kecil aku sempet nanya mama, siapa sih yang pertama kali manggil aku Novi. Padahal kan, nama depanku Ashry, kenapa dipanggilnya Novi. Novi itu pasaran banget dan sering diubah jadi Nopi. Lalu mamaku bilang, kalau yang pertama kali manggil Novi itu tetanggaku, mbak Sri, karena dia susah manggil Ashry. Jadinya semua orang ikutan manggil Novi. Oh okay. Sebenarnya si nggak masalah juga, tapi entag kenapa dulu aku lebih suka sama Ashry karena lebih jarang aja ada yang namanya Ashry. Kemudian dari TK sampai Sekolah Dasar pun semua temanku manggil aku Novi or Nopi. Jadi sama sekali ga ada yang manggil Ashry. Anyway, dulu aku hampir mau dinamain Sekar, tapi nggak jadi. Pas masuk SMP, aku dapat ide mau ubah nama panggilan, karena momentnya pas aja, walaupun temen SDku juga banyak yang masuk di SMP yang sama hahahaha. Dan berhasil deh nama panggilanku jadi Ashry. Sampai kuliah pun aku lebih banyak dikenal dengan Ashry. Tapi tetep aja, kadang ada orang yang langsung manggil aku dengan Novi kalau udah tau ada Novi nya di namaku. Mungkin nama Novi emang lebih mudah dibanding Ashry. Lalu kemudian kan aku ke Aussie ya, disitulah aku malah pengen balik dipanggil Novi aja karena nama itu lebih internasional hahahahha, maksudnya lebih mudah aja Novi dibanding Ashry aja. Wkwkwkwk, tapi aku ga ngubah juga si pas di Aussie, karena banyak temanku juga yang udah terlanjur manggil Ashry. Dan nama tengah itu malah suka dihilangkan, jadi malah suka nulis Ashry Fajry aja. Hahaha, begitulah perkara kegalauan nama panggilan. Intinya, dipanggil dua-duanya oke-oke aja sih. Sekarang malah jadi punya nama panggilan banyak, Ashry, Novi, Achie, Kak nov, mbak Nov, mba chie, nengky, oneng. Yah anggap aja semua panggilan itu panggilan sayang.
Ohya, kalau kalian mau tinggal di luar, kayaknya oke juga cari nama panggilan yang lebih mudah. Biasanya banyak juga yang membuat nama satu suku kata, misalnya Ashry jadi Ash, biar mudah diinget aja. Tapi ini cuma saran yang sama sekali nggak wajib untuk diikutin. wkwkwkkw. Apa kalian punya dilema hidup yang sama?
Ohya, kalau kalian mau tinggal di luar, kayaknya oke juga cari nama panggilan yang lebih mudah. Biasanya banyak juga yang membuat nama satu suku kata, misalnya Ashry jadi Ash, biar mudah diinget aja. Tapi ini cuma saran yang sama sekali nggak wajib untuk diikutin. wkwkwkkw. Apa kalian punya dilema hidup yang sama?
12/01/20
Tentang Ikan
Mama: Dan, Mas Edo kok kayak anak kecil ya Dan, beli ikan banyak banget, kayak kamu dulu.
Zidan : Lah kan emang Bapak-bapak ma yang suka beli ikan, beli burung.
***
Lol, fix sudah kalau Mas Edo udah bapak-bapak.
Jakarta, 13 Januari 2020.
Zidan : Lah kan emang Bapak-bapak ma yang suka beli ikan, beli burung.
***
Lol, fix sudah kalau Mas Edo udah bapak-bapak.
Jakarta, 13 Januari 2020.
31/12/19
di tahun 2019
Halo!
Rasanya tahun 2019 ini emang cepat sekali berlalu. Namun, ada beberapa kejadian yang mau aku tulis di sini, biar aku enggak lupa, biar aku akan ingat kalau aku pernah melaluinya.
1. Akses WA dan medsos terhambat.
Waktu itu aku pulang kerja seperti biasa, mengganti akses internet di HP dari wifi kantor ke mobile data ketika aku turun ojek mau naik TransJak. Di situ aku baru ngeh, kalau akses ke WA dan medsos lagi lemot banget. Aku kira saat itu baru aja dimulai ada pembatasan akses, ternyata besoknya aku baru tahu dari teman seruanganku yang seharian pakai mobile data emang dari pagi udah nggak bisa akses. Kalau teman-teman mau lihat beritanya bisa ditelusur di google dengan kata kunci pembatasan "wa dan medsos Indonesia 2019".
2. Mati listrik
Waktu itu akhir pekan bulan Agustus. Aku terbangun dari tidur siang mendengar samar-samar tetangga bilang, "mati lampu" "sejawa bali". Aku langsung tergugah untuk bangun. Feelingku langsung berkata, mati lampunya sepertinya akan lama. Di Jakarta bisa dibilang lumayan jarang mati lampu. Saat itu ayah dan mama sedang pergi haji. Jadi di rumah cuma ada aku, adik-adik, dan Shabira. Adikku keluar rumah untuk mencari makanan. Aku bilang ke dia beli makanan untuk malam juga. Mereka pulang membawa mie instant, nasi padang, snack, dan lilin. Untungnya mereka beli lilin juga. Karena betul, sampai hari gelap, lampu belum menyala juga. Alhamdulillah, air di toren masih ada, jadi kami masih bisa mandi dan wudhu dengan lancar. Di keheningan malam yang gelap, aku pangku Shabira, aku ajak main membuat bayangan dari tangan yang dibentuk hewan-hewan. Aku berdoa semoga tidak lama mati lampunya. Alhamdulillah, lampu menyala juga sebelum kami pergi tidur. Namun, kami sempat waswas juga. Karena berita yang beredar, nanti akan mati lagi. Alhamdulillah sampai besoknya terus menyala listriknya.
3. Gempabumi
Waktu itu aku baru pakai mukena, mau mulai sholat sepulang kerja di depan kamar. Tiba-tiba adikku keluar kamar, bilang gempa! Aku merasakannya juga. Aku ke dapur mematikan kompor yang menyala lalu mengambil helm. Aku kepikiran ambil helm untuk melindungi kepala Shabira. Kami udah mau ke luar rumah semuanya. Namun kemudian gempanya berhenti, alhamdulillah. Kami menghubungi orang tua kami yang masih di tanah suci, kalau semua baik saja-saja.
4. Aksi besar
Akhir September 2019, ada aksi lumayan besar di gedung MPR/DPR. Aku sendiri nggak melihat langsung karena saat itu aku lagi nggak ke kantor pusat. Aku cuma ngikutin berita di internet. Nyimak cerita-cerita teman-teman yang bekerja di daerah Senayan tentang bagaimana mereka harus jalan jauh dan kena gas air mata. Entah kenapa, yang terlintas di kepalaku ketika pulang kerja adalah flashback saat reformasi 98. Saat itu, aku masih kelas 6 SD. Di perjalanan menuju pulang ke rumah karena sekolah dibubarkan saat belum masuk juga (mungkin sekitar jam 1 siang) (sekolahku masuk siang). Aku berjalan pulang dengan adikku. Kami berdua sebenarnya memang nggak ngerti apa yang sedang terjadi, cuma tahu ada kerusuhan di mana-mana dan udah sampai di daerah kami di Pasar Minggu. Aku hampir menitikkan air mata mengenangnya.
Sekian catatanku di awal tahun 2020 ini. Doaku, semoga tahun depan lebih tenang dan damai di mana pun kita berada. Amin
xoxo
Ashry
Rasanya tahun 2019 ini emang cepat sekali berlalu. Namun, ada beberapa kejadian yang mau aku tulis di sini, biar aku enggak lupa, biar aku akan ingat kalau aku pernah melaluinya.
1. Akses WA dan medsos terhambat.
Waktu itu aku pulang kerja seperti biasa, mengganti akses internet di HP dari wifi kantor ke mobile data ketika aku turun ojek mau naik TransJak. Di situ aku baru ngeh, kalau akses ke WA dan medsos lagi lemot banget. Aku kira saat itu baru aja dimulai ada pembatasan akses, ternyata besoknya aku baru tahu dari teman seruanganku yang seharian pakai mobile data emang dari pagi udah nggak bisa akses. Kalau teman-teman mau lihat beritanya bisa ditelusur di google dengan kata kunci pembatasan "wa dan medsos Indonesia 2019".
2. Mati listrik
Waktu itu akhir pekan bulan Agustus. Aku terbangun dari tidur siang mendengar samar-samar tetangga bilang, "mati lampu" "sejawa bali". Aku langsung tergugah untuk bangun. Feelingku langsung berkata, mati lampunya sepertinya akan lama. Di Jakarta bisa dibilang lumayan jarang mati lampu. Saat itu ayah dan mama sedang pergi haji. Jadi di rumah cuma ada aku, adik-adik, dan Shabira. Adikku keluar rumah untuk mencari makanan. Aku bilang ke dia beli makanan untuk malam juga. Mereka pulang membawa mie instant, nasi padang, snack, dan lilin. Untungnya mereka beli lilin juga. Karena betul, sampai hari gelap, lampu belum menyala juga. Alhamdulillah, air di toren masih ada, jadi kami masih bisa mandi dan wudhu dengan lancar. Di keheningan malam yang gelap, aku pangku Shabira, aku ajak main membuat bayangan dari tangan yang dibentuk hewan-hewan. Aku berdoa semoga tidak lama mati lampunya. Alhamdulillah, lampu menyala juga sebelum kami pergi tidur. Namun, kami sempat waswas juga. Karena berita yang beredar, nanti akan mati lagi. Alhamdulillah sampai besoknya terus menyala listriknya.
3. Gempabumi
Waktu itu aku baru pakai mukena, mau mulai sholat sepulang kerja di depan kamar. Tiba-tiba adikku keluar kamar, bilang gempa! Aku merasakannya juga. Aku ke dapur mematikan kompor yang menyala lalu mengambil helm. Aku kepikiran ambil helm untuk melindungi kepala Shabira. Kami udah mau ke luar rumah semuanya. Namun kemudian gempanya berhenti, alhamdulillah. Kami menghubungi orang tua kami yang masih di tanah suci, kalau semua baik saja-saja.
4. Aksi besar
Akhir September 2019, ada aksi lumayan besar di gedung MPR/DPR. Aku sendiri nggak melihat langsung karena saat itu aku lagi nggak ke kantor pusat. Aku cuma ngikutin berita di internet. Nyimak cerita-cerita teman-teman yang bekerja di daerah Senayan tentang bagaimana mereka harus jalan jauh dan kena gas air mata. Entah kenapa, yang terlintas di kepalaku ketika pulang kerja adalah flashback saat reformasi 98. Saat itu, aku masih kelas 6 SD. Di perjalanan menuju pulang ke rumah karena sekolah dibubarkan saat belum masuk juga (mungkin sekitar jam 1 siang) (sekolahku masuk siang). Aku berjalan pulang dengan adikku. Kami berdua sebenarnya memang nggak ngerti apa yang sedang terjadi, cuma tahu ada kerusuhan di mana-mana dan udah sampai di daerah kami di Pasar Minggu. Aku hampir menitikkan air mata mengenangnya.
Sekian catatanku di awal tahun 2020 ini. Doaku, semoga tahun depan lebih tenang dan damai di mana pun kita berada. Amin
xoxo
Ashry
Langganan:
Postingan (Atom)