Mei 24, 2012

7. Sehari di Hatyai nan Damai



Perjalanan ini merupakan perjalanan pertama bagi kami bertiga ke Kuala Lumpur dan Hat Yai. Setelah mengumpulkan banyak informasi dari berbagai blog, kami tetap ingin mencoba perjalanan ini, ke Hat Yai melalui jalur darat, setelah malam sebelumnya pun juga sama. Dari Singapura ke Kuala Lumpur dengan kereta. Hat Yai merupakan nama kota yang terletak di Thailand bagian selatan terletak di dekat perbatasan Malaysia. Dengan memiliki jumlah penduduk sebanyak 155.805 jiwa (2005) di daerah kota dan di daerah metropolitan berjumlah 700.000 jiwa, terletak di Provinsi Songkhla (http://id.wikipedia.org/wiki/Hat_Yai diakses tanggal 27 april 2012).
Begitu sampai di KL Sentral, kami langsung mencari shower room dan loker untuk menitipkan barang bawaan kami. Karena kami rasa, agak sedikit kewalahan membawa ransel yang tidak ringan ini sampai ke Hat Yai nanti. Kami berjalan menuju loket penjualan tiket. Dan ternyata kami kehabisan tiket kereta Kuala Lumpur Hatyai dai KL Sentral. Namun kami tak patah semangat. Kami mencari tiket ke Hat Yai dari terminal Pudu Raya. Terminal Pudu Raya tidak begitu jauh dari KL Sentral, hanya perlu naik LRT seharga 1 RM, turun di pasar seni kemudian berjalan kaki. Harga tiket di bis memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan tiket kereta. Tiket kereta seharga 35 RM sedangkan bis 50 RM. Jadwal keberangkatan bis yaitu pukul 10.15 malam. Setelah cukup tenang karena mendapatkan tiket bis nanti malam, kami melanjutkan perjalanan ke menara petronas untuk mengisi waktu sampai malam keberangkatan bis malam nanti.

***

Kami berhenti di pemberhentian bis kedua, setelah yang pertama kami melewatinya. Saya terbangun sebenarnya saat bis berhenti pertama kalinya. Tapi,  kantuk yang tak tertahankan membuat saya malas untuk sekedar menggerakkan tubuh. Sekali saya menoleh ke kursi sebelah, Emy dan Indy tidur dengan lelap.  Sedikit ada rasa takut menggelayut karena kedua teman saya tertidur,  daripada tidak tidur hanya bengong-bengong dan malah bikin galau, saya pun tidur lagi.  
Di pemberhentian kedua ini kami duduk-duduk di kursi. Banyak orang mengantre di loket penukaran uang. Saya dan Emy sudah siap-siap ambil air wudhu agar nanti di bis bisa melaksanakan sholat subuh. Jam sudah menunjuk pukul setengah lima, tapi kami tidak yakin itu sudah masuk waktu subuh. Jadi kami tidak sholat di mushola yang tersedia di pemberhentian tersebut, lagipula kami takut ketinggalan rombongan. Bis berhenti agak lama. Emy yang agak sigap kesana kemari beberapa kali bertanya dengan penumpang lainnya. Satu hal yang kami agak cemas, paspor kami diminta  saat turun bis tadi oleh abang kondektur bis. Ternyata paspor dikembalikan kemudian dengan sudah diselipkan lembar imigrasi dan sudah diisi pula sebagian datanya.
Tak lama kemudian bis berjalan melanjutkan perjalanan. Kemudian kami tiba di imigrasi. Ketika berbaris rapi mengantre di loket imigrasi, sepasang anak muda asal Malaysia mengajak kami mengobrol. Mereka ingin liburan 2 hari di Thailand. Ternyata bukan bahasa Inggris saja yang sulit dimengerti, di mana saya sering meminta lawan bicara mengulang ucapannya. Dengan bahasa melayu pun demikian. Sang pria menanyakan apakah saya sedang belajar di Malaysia. Berkali-kali saya memastikan, apa? Belanja? Hah? Kemudian menjadi jelas setelah mereka menyebut kata study. Hooooo. Saya bilang sudah kerja, dan mereka sedikit terkejut mengetahui umur saya lebih tua 2 tahun dari mereka. 
Sedangkan Emy di depan saya sibuk bercakap-cakap dengan seorang bule yang   belakangan saya ketahui namanya Ashton dan ternyata bukan bule. Bahasa inggrisnya sangat lancar dan aksennya jauh dari aksen melayu. Secara fisik mirip bule, tapi kalau Emy dan Indy bilang seperti India yang berkulit putih. Ternyata dia adalah orang Malaysia yang tinggal di Australia. Kami masuk bis kembali, Emy dan Ashton masih bercakap-cakap
Emy membangunkan saya, ternyata sudah sampai di tujuan. Kami bersiap turun dari bis. Ashton sedikit berpesan kepada Emy, entah apa. Ternyata Ashton bilang just ignore the people. Kami disarankan untuk segera masuk ke Davis Travel dan membeli tiket bis kembali ke Kuala Lumpur untuk malam ini. Emy berpesan kepada saya dan Indy: “jangan pada bengong-bengong ya, langsung masuk ke travel itu”. Saya dan Indy pun mengangguk sambil menyetel muka tidak bengong.




Sampai di travel kami langsung memesan tiket kembali ke Kuala Lumpur seharga 400 bath atau 40 ringgit. Travel ini juga menerima pembayaran dalam bentuk ringgit. Kami membayar 50 ringgit kemudian dikembalikan 100 bath. Alhamdulillah, itung-itung nambah bekal kami yang hanya sedikit. Dengan percaya diri yang tinggi kami hanya membawa 300 bath dari Kuala Lumpur, atau sekitar 90 ribu kalau dirupiahkan.  
Kemudahan berikutnya datang, ternyata di travel ini tersedia kamar mandi untuk mandi. Setelah bertanya kepada seorang eceu di travel itu, dia mempersilahkan, you can take a shower at our office. Kami bertiga langsung mandi bergantian.  Untungnya seorang eceu di travel ini sedikit-sedikit bisa bahasa inggris, ya hanya sedikit kosa kata yang ia ketahui. Dua Eceu lainnya tidak bisa.  Mereka pun sangat ramah kepada para pengguna travel. Kami pun memanfaatkannya dengan mandi, isi botol minum, bikin susu, dan numpang duduk-duduk sambil nonton tv.
Setelah rapi berdandan tujuan kami adalah mencari mini market untuk sekedar mencari air mineral dan ada satu barang yang Indy butuhkan. Kami melewati pasar tradisional yang menjual beraneka ragam barang. Dan untungnya mini market yang kami cari ada di situ. Setelah membeli barang yang kami cari, saya dan Indy keluar duluan. Emy masih di dalam, entah apa lagi yang dicarinya. Tak lama kemudian kami dipanggil Emy dari dalam, WOY! MASUK!. Kami pun masuk lagi ke dalam mini market. Ternyata Emy habis bertanya kepada akang penjaga kasir berapa harga air panas, dan si akang bilang free, sebuah kata yang membuat hati kami berbunga-bunga. Kami  langsung mengeluarkan bekal pop mie dari dalam tas. Bahkan saya bikin 2 karena pop mie yang saya bawa ukuran mini. Dengan apik dan cantik kami menyeduh pop mie kemudian lenggang kangkung keluar mini market.
Berikutnya kami mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan makanan ini. Dan kami pun menemukan emperan toko yang belum buka. Baiklah, di sini tempatnya. 

Setelah pop mie habis kami kembali ke travel karena masih belum tahu tujuan. Sebenarnya mau seharian di travel ini nggak apa-apa sambil nunggu bis kembali ke KL nanti malam, numpang tidur guling-guling juga nggak masalah. Yang penting kan sudah sampai Thailand. Sudah ada stempel Negara Thailand mewarnai paspor kami. Tapi kami nggak mau demikian. Walaupun hanya sehari di Hatya, kami ingin memaksimalkannya dengan foto-foto sebanyak mungkin, biar gayak.
Setelah duduk di travel sebentar, kami beranjak lagi untuk mencari tuctuc. Kami berniat menyewa tuctuc seharian biar nggak repot. Tuctuc merupakan kendaraan umum yang banyak ditemui di Thailand. Bentuknya seperti bemo di Jakarta. Akirnya kami bertemu dengan abang tukang tuctuc yang lewat. Di sini komunikasi mulai tersendat. Si abang nggak bisa bahasa inggris dan membaca tulisan latin. Kami juga nggak bisa bahasa Arab, Spanyol dan Perancis. Dan kami tetap mengusahakan menggunakan bahasa inggris seadanya sesederhana mungkin agar si abang paham, karena emang juga bisanya bahasa inggris level pre basic. Dan si abang hanya melongo dan sedikit-sedikit membalas dengan bahasa Thailand. Akhirnya ada seseorang yang berdiri di dekat tuctuc membantu kami. Orang tersebut bisa sedikit bahasa Melayu, Inggris dan Thailand. Sehingga ia bisa kami jadikan mediator. Kami juga menggunakan alat tulis, pensil dan kertas untuk memperjelas maksud kami. Akhirnya deal juga dengan harga sewa yang disepakati dan 3 tujuan wisata. Tuctuc berjalan.
Tujuan utama kami adalah patung budha tidur. Letaknya tidak begitu jauh. Hanya sebentar perjalanan kami sudah sampai tujuan. Seperti biasa, begitu sampai kami langsung foto-foto. Sedang asik foto-foto tiba-tiba bunyi suara ledakan membahana. Kami sebenarnya ingin langsung naik ke tuctuc dan menyuruh abang tuctuc ngebut seperti iklan motor komeng meninggalkan area ini. Tapi orang-orang lain stay calm tenang-tenang saja. Menganggap bunyi ledakan barusan sudah mahfum dan biasa. Kami pun ikutan stay cool  dan mulai beradaptasi dengan hal tersebut. Kami melanjutkan lagi foto-foto. Sang abang tuctuc berinisiatif membantu kami mengambil gambar karena mungkin kasihan melihat kami sibuk mengatur kamera agar bisa foro bertiga. Yah walaupun hasilnya nggak bagus-bagus banget kami menghargai sifat mulia abang tuctuc.










Tak lama kemudian ada lagi bunyi petasan membahana di area tersebut. Kami mulai merasa tak nyaman, kemudian kami benar-benar ingin meninggalkan tempat itu. Setelah foto di tuktuk, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Tujuan kami berikutnya yaitu Mermaid Beach. Pantai yang ditepinya terdapat patung puteri duyung. Ternyata lokasinya lumayan jauh, jauh banget. Alamakjan...
Beberapa jam kemudian tiba juga di pantai yang termahsyur itu. Hamparan laut dengan ombak yang sedang-sedang saja terbentang di hadapan kami. Pantainya tidak terlalu ramai. Hanya saja banyak yang mengantri untuk foto di patung putri  duyung yang berdiri kokoh di tepi pantai itu. 









Kami pun ikut mengantre dengan sigap agar bisa foto dengan sang putrid duyung. Setelah beberapa kalai take, dan mendapat gambar yang kami rasa bagus kami pun menjauhi patung tersebut untuk mencari tempat yang lebih sepi. Setelah mendapat tempat yang pas untuk foto-foto, kami pun mulai berfoto dengan berbagai gaya. 

Ya benar, berbagai gaya. Beberapa orang yang duduk-duduk tersenyum-senyum simpul memperhatikan kami bertiga yang hoboh sendiri. 

Setelah kelelahan karena beberapa kali kami mengambil foto loncat, kami pun berniat menyudahi saja sesi foto-foto tersebut. Kami berjalan menuju tuctuc yang setia menunggu. Si abang sedang asik ngobrol dengan salah seorang di sana. Kami menggambar masjid dan menirukan gaya sholat kepada abang tuktuk, dan dia paham kalau kami minta diantarkan ke masjid. Si abang bertanya kepada beberapa orang di dekat sana di mana letak masjid terdekat. Akhirnya kami diantarkan ke masjid terdekat. Saat kami sholat juga terdapat rombongan keluarga yang sepertinya berasal dari Malaysia yang juga melancong ke Hatyai.
Si indy yang sedang tidak sholat asik mengobrol dengan abang tuctuc ketika saya dan Emy kembali dari Masjid. Entah apa yang mereka bicarakan terlihat seru sekali, entah menggunakan bahasa apa. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Ternyata jalan yang kami tempuh cukup jauh. Jalanan seperti jalan tol di Jakarta, dan saya tidak menemukan tuctuc di jalan itu kecuali tuctuc yang kami tumpangi. Mulailah kami bercerita yang aneh-aneh. “Sepi banget ya....”Ucap saya mulai waswas.
“Iya di sini kan kata di buku, banyak terjadi tindak kriminal dan penembakan.” Ucap Indy
Bulu kuduk saya merinding. Saya pun cepat-cepat membuka buku yang Indy bawa untuk mencari informasi mengenai kota ini. Benar saja, di buku itu dideskripsikan demikian. Saya mulai menenangkan diri dan berpikir positif saja.
“Tadi abangnya juga bulang, baru aja ada bom”
 “Heeeeee? Serius?”
“Iya tadi bilang, hatyai... boooom.. hat yai... boom...” Ucap Indy menirukan gaya si abang tuctuc.
Dan kemudian mobil ambulance lewat menyalip tuctuc kami. Dan kami pun hanya berpandang-pandangan dengan berusaha berpositif thinking dan banyak-banyak berdoa. Di situ minat untuk mengunjungi satu tempat wisata lagi sudah menurun. Rasanya pengen cepet-cepet kembali ke hotel, ngga nginp di hotel juga padahal. Di tengah perjalanan si abang menghentikan tuktuknya. Ia ingin membeli air minum. Sang abang ternyata baik banget, kami bertiga dibelikan sebotol air mineral masing-masing. Botolnya unik, seperti botol infus. Tadinya kami sempat ragu, air apaan inih.
Ternyata jalan yang kami lalui di blok tidak bisa lewat karena ada suatu insiden yang kami belum tahu. Kalau dari dugaan sementara sepertinya bom. Kemudian sang abang menjadikan alasan tersebut untuk tidak mengantarkan kami ke tujuan wisata berikutnya. Bisa banget ni si abang nyari alesan. Yasudahlah, hari juga semakin sore dan kami sudah tidak semangat lagi untuk jalan-jalan. Sang abang mengantarkan kami kembali ke Davis travel. Setelah membayar, kami turun tuctuc dan masuk ke travel.  Di dalam travel kami baru menyadari ternyata handuknya Indy ketinggalan di tuctuc. Tadi kami memang sengaja menjemur handuk kami di tuktuk agar kering.
Emy bertanya kepada Mr. Davis sang pemilik travel mengenai insiden yang baru saja terjadi. Di televisi juga ditayangkan tayangan langsung berita mengenai insiden tersebut. Banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit dan orang-orang terlihat panik. Tapi karena bahasanya kami tidak paham, jadi kami belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari penjelasan Mr. Davis kami akhirnya mengetahui bahwa insiden tersebut  adalah terjadi  ledakan kompor gas di sebuah restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari travel tersebut. Mr. Davis pun sibuk mengabarkan koleganya di Malaysia memberikan penjelasan bahwa yang baru saja terjadi adalah kecelekaan bukan bom atau terorisme. Kami sedikit tenang.
Sambil menunggu waktu keberangkatan ke Kuala Lumpur yang masih beberapa jam. Kami lakukan dengan, mengumpulkan uang sisa-sisa bath yang ternyata udah nggak ada sisanya sama sekali. Akhirnya kami menukarkan lagi beberapa bath untuk membeli sekedar kenang-kenangan dari Thailand. Kami membeli dompet-dompetan. Setelah itu kami sibuk membuat video sendiri dengan HP Indy, bercerita pengalaman seharian ini di Hatyai. Lumayan bikin ketawa-ketawa. Bisnya sudah datang tapi masih belum berangkat. Beberapa lama kemudian ada seseorang yang masuk ke travel tersebut dan menyapa Emy, ternyata Ashton. Wow, sayang sekali dia datang di waktu yang kurang tepat, kami harus segera kembali ke Kuala Lumpur. Pede banget dicariin Ashton, orang dia mau beli tiket ke Phuket.
Bis berangkat juga ke Kuala Lumpur pada pukul 19.00 waktu Thailand. Kami pun bermalam di bis, tidur dengan nyenyak sekali.


“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard

Mei 01, 2012

AUDISI BUKU STORYCAKE FOR BACKPACKERS (GPU)


Temans, ada info audisi buku, mungkin ada  yang mau ikutan:

AUDISI BUKU STORYCAKE FOR BACKPACKERS
(30 Kisah-Kisah Seru dan Inspiratif Tentang Petualangan ala Backpacker)

Yuhuuuuu, STORYCAKE is BACK !
Tau backpacker kan ? Itu lho, si tukang jalan-jalan yang modalnya ransel gede doang plus duit irit –kalau gak bisa dibilang minim-. Apakah jika Saya sudah jalan - jalan dengan bawa ransel super gede, berarti saya adalah seorang backpacker ? Wait, jangan tergesa - gesa menyebut diri menjadi backpacker.
Menurut hasil googling, Seorang backpacker sejati itu bukan hanya seseorang yang jalan-jalan nenteng ransel gede puluhan kilo. Arti backpacker lebih dari itu. Seorang backpacker adalah Smart Traveller.. Anyway, apapun itu, setelah dua buku STORYCAKE sebelumnya yang sudah terbit (Storycake For Ramadhan dan Storycake For Amazing Moms),
akhirnya GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA akan kembali hadir dengan serial Storycake terbaru yang gak kalah seru dan heboh : STORYCAKE FOR BACKPACKERS !
Punya pengalaman menarik, heboh, gila-gilaan, inspiratif dan lain-lain tentang petualangan ala backpacker?
Punya anak yang hobi ngegembel backpackeran sampe bela-belain bolos sekolah?
punya kerabat, saudara, sahabat dan kenalan yang punya cerita menarik seputar dunia backpackeran ?
langsung aja ikutan audisi ini yaaa …
*Catatan : Travelling dengan menggunakan koper, itu gak masuk bagian dari backpackeran lho ya, He he he …

SYARAT UMUM :
1.      Usia Bebas, Laki-laki dan perempuan.
2.     Tulisan harus berisi kisah nyata pribadi, maupun orang-orang terdekat dan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.Jika nanti naskah lolos seleksi, maka Kamu harus menyerahkan surat pernyataan keaslian naskah.
3.      Jika Kamu menuliskan kisah hidup orang lain, maka di akhir cerita,tuliskan nama lengkap si tokoh nyata tersebut.
4.      Tulisan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun (termasuk di dunia maya).
5.     Tuliskan kisah kamu yang tak terlupakan, paling menginspirasi dan sangat menarik tentang pengalaman backpackeran kamu kemanapun (keliling dunia, keliling Indonesia atau bahkan cuma keliling di dalam kota ).
6.      Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah terbaiknya.

SYARAT KHUSUS :
1.     Naskah berupa tulisan nonfiksi populer (bukan makalah ilmiah), dengan kisah yang mengalir, ringan, dan mudah dicerna berbahasa Indonesia  yang baik.Boleh menyelipkan bahasa santai dan gaul, tapi tetap sesuai dengan EYD. Hindari pemakaian kata-kata yang menyinggung SARA, mengandung pornografi, bahasa kasar, dan bahasa ALAY.
2.      Panjang naskah  maksimal 5  halaman kertas A4, ketik 1,5 spasi, huruf Times New Roman 12. Ketik dan simpan hanya dalam file Microsoft Word berformat (.doc).
3.      Naskah dikirim dalam bentuk attachment ke alamat e-mail : emakbackpacker@yahoo.com. Ingat, naskah jangan ditulis di badan e-mail. Pada subyek, tuliskan: (ANTOLOGI SFB) – Judul Naskah.
4.      Naskah dalam bentuk (.doc) itu harus mencantumkan judul naskah dan nama penulisnya di bagian bawah judul sebelum cerita.
5.     Sertakan nama asli, nama FB, dan biodata deskriptif sepanjang satu paragraf di akhir naskah (contoh biodata deskriptif silahkan lihat di bagian bawah catatan ini).
6.      Akan dipilih 30 naskah yang dinilai paling unik, memotivasi, heboh dan menginspirasi untuk dibukukan dalam sebuah antologi.
7.      Naskah ditunggu hingga tanggal 1 Mei 2012 Pukul 24.00 WIB.
 8.     Peserta yang ingin mengikuti audisi ini harus mempublikasikan info audisi ini di Notes masing-masing dan di  Blog (tentatif) berikut foto cover buku-buku storycake yang ada dalam notes ini.
9.     Berhubung Akun Lygia Pecanduhujan sudah penuh, maka silahkan para peserta mengklik dan mengelike Fanpage :
http://www.facebook.com/pages/Lygia-Pecanduhujan-Fanpage/121905561178499 dan mentag fanpage tersebut dalam notesnya beserta dengan minimal 20 teman lainnya.
10.   Pengumuman kontributor yang masuk dalam antologi ini akan di-posting di fanpage Lygia Pecanduhujan pada tanggal 10 Mei 2012 Pukul 24.00 WIB.
11.  Naskah yang terpilih akan diterbitkan oleh GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA (GPU).
12.  60% dari jumlah royalti akan dibagikan secara rata kepada seluruh kontributor dalam buku ini.
13.  BACALAH KEMBALI SELURUH PERSYARATAN DI ATAS DENGAN TELITI, karena seluruh naskah yang masuk yang tidak memenuhi satu saja syarat, akan langsung dinyatakan gugur.
14.  Karena kesibukan saya, mohon maaf jika saya tidak melayani tanya jawab melalui inbox, email, SMS atau surat menyurat  . Jika ada pertanyaan yang dirasa cukup penting, silahkan tanyakan di kolom komentar di bawah ini ya …
Jadi, tunggu apa lagi? Tulis kisahmu yang paling menarik, lalu kirimkan sekarang juga.
(*) Jangan tunggu sampai Deadline untuk mengirimkan naskah jika ingin naskah teman2 dibaca dengan teliti.  
Please feel free to copy paste and share to everyone !
Salam Backpackers !
Lygia Pecanduhujan

Contoh Biodata Deskriptif :
LYGIA PECANDUHUJAN
Seorang Sarjana Hukum bernama asli Lygia Nostalina yang nyasar memilih jalur sebagai penulis.Pengalaman dua tahun menjadi Jurnalis di sebuah tabloid di Bandung dirasanya telah cukup hingga akhirnya ia memilih keluar dan bergabung dengan komunitas IIDN dimana ia menjadi Public Relation dan Marketing Komunikasinya. Tulisan-tulisannya sudah tersebar di sebelas (11) buku antologi, tiga diantaranya sebagai penyusun, dan ia yang memberi nama untuk buku-buku antologi berseri ala chicken soup pertama yang asli Indonesia yaitu serial “A Cup of Tea” (buku ala chicken soup terbitan Stiletto Book yang sudah memasuki seri ketiga) dan “Storycake” (buku ala chicken soup terbitan Gramedia Pustaka Utama yang juga sudah memasuki seri ketiga). Sangat menyukai hujan sehingga memilih nama pena Pecanduhujan, ibu dari tiga anak yang maniak warna ungu ini sekarang mulai merambah ke penulisan skenario film layar lebar dan sedang menyelesaikan 3 buku solonya. Ia dapat dikontak melalui email : emakbackpacker@yahoo.com, Fanfage FB : Lygia Pecanduhujan (Fanpage) dan Twitter : @giapecanduhujan.

Silahkan baca Tips & Trik mengikuti proyek Antologi di :
 http://www.facebook.com/notes/lygia-pecanduhujan/-tips-trik-mengikuti-proyek-antologi-/10150624797606876

BOCORAN TEMA UNTUK STORYCAKE FOR BACKPACKERS
By Lygia Pecanduhujan in Ibu-ibu Doyan Nulis - Interaktif · Edit Doc
1. Tentukan Perjalananmu
Meski berencana jalan-jalan ala backpacker, tidak ada salahnya merencanakan terlebih dahulu secara matang perjalanan
tersebut. Dalam bab ini akan ditulis kisah-kisah yang berisi tentang kehebohan menentukan destinasi jalan-jalan ala
backpackeran, rencana yang disusun dengan matang, dan segala persiapan yang terjadi saat seseorang mulai tertarik
untuk melakukan perjalanan ala backpacker. Banyak kisah seru saat masih baru saja merencanakan backpackeran.
Mungkin saja perjalanannya malah tidak jadi terwujud ?
2. Selamat Datang Di Tempat Asing
Kisah-kisah tentang kepergian ke tempat baru, memulai petualangan baru, dan lain-lain.
3. Tak Kenal Maka Tak Sayang
Kisah kocak, penuh air mata, mengharukan, bikin ketawa, pokoknya segala cerita tak terlupakan tentang backpackeran
menjadi isi dari bab ini
4. Menjadi Backpacker Sejati
Kisah-kisah para kontributor yang akan membagikan cerita nyata mereka seputar backpackeran yang pernah mereka
lakukan hingga akhirnya mereka merasa yakin untuk mengakui bahwa “Aku adalah seorang backpacker !”
Catatan :
1.     Ini tidak harus pengalaman/kisah nyata para kontributor di dunia nyata. Bisa saja ia mengambil ceritanya
dari tulisan orang lain, dll.
2.     Penulisan tidak harus “berat”. Ambil satu bagian kecil kisah dari episode perjalanan itu
an tuliskan dengan tulisan yang menarik.
3.     Ingat durasi, maksudnya, ingat jumlah halaman maksimal, jangan sampai anda melebihi jumlah
halaman maksimal tersebut kalau tidak ingin tulisan anda terpaksa dipotong habis-habisan.
4.     Baca baik-baik contoh penulisan ala chicken soup di buku-buku yang sudah lebih dulu beredar.
5.     Deadline semakin dekat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kirim tulisan jauh hari sebelum deadline.
6.     Selamat Menulis.
(Bagi yang sudah menyebarkan info lomba ini di notenya masing-masing, gak ada salahnya bocoran ini juga dibagikan
di FB masing-masing )
Salam,
Lygia Pecanduhujan




April 20, 2012

6. Pria Penjaga Loker

Sayup-sayup saya mendengar cekikian Indy dan Emy menertawakan kejadian tadi malam. Saya pun terbangun dengan pemandangan gunung dan kebun di jendela. Pemandangan yang hampir sama seperti ketika saya pulang kampung ke Solo dengan kereta Senja Utama. Ternyata hari sudah pagi.
Gerbong ini sangat sepi, mungkin cuma ada 4 orang selain kami. Namun ketika sampai di stasiun apa namanya, penumpang sudah mulai banyak. Mungkin ibaratnya, itu sudah masuk di daerah Bogor kalau kita mau ke Jakarta. Banyak orang yang bekerja menggunakan kereta menuju Kuala Lumpur. Mungkin ya, soalnya nggak sempet nanya-nanya juga sama penumpang yang lain. Agak gengges ya.
Kami sempat membahas bagaimana keadaan di Jakarta. Karena kami mendapat informasi dari beberapa twit dan status bbm juga sms dari keluarga kalau kemarin di jakarta ada demo lumayan besar. Tak lupa kami berdoa semoga keluarga dan teman-teman kami di Jakarta selalu dilindungi Allah.
Dan akhirnya sampailah kita di KL Sentra pukul 9 kurang sedikit. Begitu sampai, di bawah tanah. Agak gimana gitu  sepi dan tidak terang. Kami langsung mencari jalan keluar, dan akhirnya menemukan lift.
Tujuan utama kami adalah shower room. Di itinerary yang indy buat, sudah tertera dengan detil di mana letak shower room dan biayanya.
Setelah bertanya kepada seseorang, sampai juga di shower room.
Ruangan mandinya ternyata cukup nyaman, kira-kira ada 4 kamar mandi, 2 toilet dan 3 ruangan ganti. Ruangan gantinya seperti kamar ganti di mall. Jadi kami bisa menyimpan barang-barang kami dan mengunci ruangan tersebut saat kami mandi. Di sana juga terdapat pengkhidmatan menggosok atau tempat menyetrika, biayanya 3 ringgit. Kalau mandi biayanya 5 ringgit.

Rasanya segar sekali mandi pagi itu. Kami berkemas. Oya, kami berniat menggunakan loker agar kami tidak perlu membawa semua barang-barang kami selama jalan-jalan di kuala lumpur dan thailand nanti. Walaupun mengurangi nilai kebackpackeran, kami bertekad menitipkan saja. Dan semakin menghargai para backpacker sesungguhnya yang kemana-mana membawa backpack yang tidak ringan. Jadi kami pilih pilah lah barang apa saja yang harus dibawa dan mana yang tidak perlu. Tetep aja, udah dipilih sedemikian rupa, ransel ini masih tidak ringan juga. Kami menelisik lebih dalam apa yang menyebabkan tas kami masih belum ringan juga. Tas saya, sepertinya karena membawa kamera. Kalau tas Indy karena ada sekotak cheese roll yang belum habis. Sekotak kue itu yang dari kemarin Indy ingin enyahkan dari tasnya. Karena kami juga tak sanggup menghabiskannya. Kemarin ia ingin memberikan pada babe tapi babe menolak. Kami pun berniat memberikan kepada orang lain tapi belum ketemu orang yang tepat.

Setelah dandan ciamik oke punya ala bekpeker modis, kami meninggalkan shower room. Dengan tak lupa mengucapkan kepada petugas, terima kasih.

Tujuan selanjutnya adalah locker. Kami harus menitipkan backpack kami di loker. Loker-loker berderet rapi di sepanjang lorong stasiun, di dekat musola, toilet dan shower room. Ada loker sedang 5 ringgit, ada juga yang besar 10 ringgit.

Seorang pria tegap berperawakan seperti bang tigor, mendekati kami ramah.
"Nak nitip barang?"
Kami mengangguk.
"10 ringgit 1 hari"
"Kami ingin menyewa 2 hari"
"2 hari?jumat....sabtu? 20 ringgit..." ucapnya ramah.

"Kayanya 3 hari deh..? iya nggak sih? kita dari Hat Yai jam berapa?" ucap saya.
"iya ya? coba itung lagi..." ucap Emy. "iya kayanya 3 hari aja, biar aman" lanjut Emy.
"3 hari..."Ucap Emy kepada pria penjaga loker.
"3 hari? jumat, sabtu, ahad?" ucapnya memastikan.
"Ya...." ucap kami meyakinkan.
Kemudian kami masukkan semua barang-barang kami. Dan memastikan tidak ada barang penting yang belum dibawa. Semua gadget, uang cash dan segala dokumen penting telah kami pastikan terbawa. Kesannya banyak banget padahal x))))
"Sudah masuk semua? paspor?" Ucap pria penjaga locker.
Kami mengangguk.
"ayo ikut saya... saya kasih receipt."
Kami pun mengikuti pria ini.
Kami diantarkan ke meja informasi yang terletak di tengah-tengah. Emy bertanya-tanya mengenai kereta ke Hat Yai. Kami disarankan untuk langsung bertanya ke loket penjualan tiket.
****
Dulu sekali, sewaktu SD. Saya pernah belajar bahasa gagigu karena teman-teman saya sekelas mendadak bicara menggunakan bahasa itu. Bahasanya itu segepegertigi iginigi. Awalnya agak nggak bisa, nggak mudeng blas. Tapi setelah beberapa hari mempraktekan langsung, dengan mengajak adik saya sebagai lawan bicara. Akhirnya saya lancara menggunakan bahasa isyarat tersebut. Dan ternyata, bahasa ini justru yang  saya, emy dan indy gunakan untuk berkomunikasi jika ingin pembicaraan kami tidak dimengerti oleh orang lain. 

"Yagaugudagah, kigitaga kege tegermiginagal agajaga dugulugu" Ucap Emy sedikit memberi harapan ketika mengetahui tiket kereta ke Hat Yai malam ini sudah habis terjual. 
"yagaugudagah gigitugu agajaga" 

Kami pun melangkah gontai meninggalkan loket penjualan tiket. Bukan karena kehabisan tiket, tapi karena perut lapar. Kami berjalan menuju food court yang bahasa Malaysianya adalah Medan Selera. Kami ingin makan dulu, mengisi energi dan berdoa semoga nanti kami mendapatkan tiket bis menuju Hat Yai malam ini. Di sini kami agak ragu dengan jadwal dan rencana yang telah kami buat,  indy yang membuat itinerary tanpa revisi sama sekali dan tidak ada plan A B apalagi Z. Masih banyak kemungkinan yang berubah. Atau bahkan perubahan tujuan tempat atau bahkan hanya menghabiskan waktu di kota ini sampa 3 hari ke depan. Tapi kami tak sempat berfikir rumit, kami hanya berfikir untuk makan yang banyak dulu, mikirnya nanti aja. heheee

Oh ya, kami berkenalan dengan ibu yang bekerja sebagai pelayan di Medan Selera yang berasal dari Indonesia, namanya ibu Azizah. Kami bertanya kepada beliau bagaimana menuju terminal Pudu Raya. Dan jawaban ibu Azizah yang kami jadikan acuan menuju terminal besar di kota tersebut. 

Tetap cerah ceria meskipun kehabisan tiket kereta ke Hat Yai  

*bersambung 



April 18, 2012

5. Gulai dituang sesungguhnya

Setelah menunggu kereta agak lama sambil terkantuk-kantuk, kami diperkenankan masuk juga. Dengan gegap gempita seperti anak kecil yang baru pertama kali naik kereta kami memilih kursi karena kursinya masih bebas, belum ada nomernya.

Kami atau mungkin hanya saya ketiduran menuju Kulai. Sebenarnya nggak tenang juga, karena kami sadar kalau nanti di tengah perjalanan akan dibangunkan. Sedang ngantuk-ngantuknya. Saya tidur dengan selimut kain bali saya dan pakai kaus kaki biar hangat, bahkan menggunakan kardigan juga.

Akhirnya sampai juga di kulai. Dengan tergopoh-gopoh kami mengikuti penumpang lain ke bis. Rasanya seperti mimpi, sungguh. Saya yang masuk bis paling belakang, menurut saja ketika Emy menunjukkan kursi kosong di depannya. "Sini neng.."
Seorang pria muda berkulit putih duduk di sebelah saya. Tanpa memperhatikan wajahnya, saya pun langsung terlelap melanjutkan mimpi saya. Indy pun  juga sama, setelah diberi instruksi Emy duduk di sebelah seorang bapak bertubuh besar, indy langsung tidur dengan pulas.
Berkali-kali terbangun karena bis berjalan sungguh cepat, ke kanan ke kiri, ngerem, ciiiiiiiiiiiiiit. Saya hanya berdoa semoga selamat, pasrah. Bis itu tertutup, langit-langit bis full karpet merah bintang-bintang. Diiringi lagu syahdu melayu semakin mirip studio musik. Kantuk yang sangat tak tertahankan, tidak memberikan tempat untuk lamunan saya kenapa saya bisa ada di situ malam itu atau bahkan berfikir yang bukan-bukan. Yang saya harapkan hanya selamat sampai tujuan. Dan ketika saya terbangun, saya menoleh ke sebelah. Penumpang di sebelah saya ini sepertinya seger-seger aja nggak ngantuk sama sekali. Saya pun melanjutkan tidur saya lagi.

Alhamdulillah, walaupun sering tertidur tapi kami selalu dibangunkan oleh Allah di waktu yang tepat. Kemudian sampai juga di Kluang. Masih sangat mengantuk, kami harus oper ke kereta. Kejadiannya mirip persis dengan kalau saya naik bis ke kantor terus di oper. Bawaannya pengen buru-buru. Entah seperti apa waktu itu saya yang memakai kain bali dan 2 tas lari-lari kecil turun bis. Entah mengapa, yang ada dikepala saya, seperti superman membawa ransel.
Malam itu kami tak sempat mendokumentasikan kegiatan transmigrasi tersebut. Waktunya terlalu cepat, dan hari sudah sangat malam. Kami sampai di stasiun Kluang, saya melihat papan sederhana bertuliskan KLUANG. Kiri kanan stasiun sepertinya kebun-kebun. Sepi. Hanya ada beberapa petugas berjaga. Saya yang jalan paling belakang mengikuti saja ke mana Indy dan Emy berjalan.
Dan kami pun masuk di gerbong yang tidak tepat. Kami malah masuk di gerbong tempat tidur. Gerbongnya sangat dingin. Untung kami tidak membeli tiket di gerbong itu, padahal mah emang nggak mampu. Kanan kiri terdapat tempat tidur tingkat. Saya membayangkan betapa nyamannya kasur-kasur itu.
Indy yang berjalan paling depan jejeritan karena gerbong yang kami lalui buntu, di ujung hanya ada toilet. Kami harus pindah gerbong sebelum kereta jalan. Dan gerbong ini tertutup jadi kami tidak bisa menyusuri gerbong dari dalam melainkan harus turun keluar kereta. Kami berjalan tidak tergesa-gesa, karena kereta sudah mulai penuh dengan orang-orang yang juga sibuk mencari kursinya. Bawaan kami dan penumpang lainnya pun banyak. Jadi kami tidak bisa berlari maraton di dalam gerbong walaupun sangat ingin.
Saya yang tadinya berjalan paling belakang bergantian menjadi paling depan karena kami berbalik arah.
Seorang nenek yang sudah tidak belia lagi masuk gerbong perlahan. Kami melambatkan langkah. Dua belas du wa be las du wa belas... Sang nenek menyebut-nyebut nomer kursinya. Kami bukannya membantu malah mematung diam menunggu sang nenek minggir sedikit saja. Setelah di bantu menemukan nomer kursinya, sang nenek tak lekas juga berbaring. Waktu seperti berhenti sepersekian detik. Akhirnya nenek minggir juga. Kami ngebut.


Setelah bertanya pada petugas, kami masuk ke gerbong yang benar. Alhamdulillah. Kami mencari kursi yang sesuai dengan tiket. Gerbong yang kami tempati sangat sepi. Kami langsung foto-foto sebelum bergegas tidur.
Ternyata petugas penjaga loket ada di situ, dan dengan inisiatif tinggi membantu kami mengambil gambar Sebenernya sih saya nggak ngeh sama pria ini, yah seperti biasa saya mah kalo nggak tidur ya ga ngeh-an orangnya. Saya cuma tahu orang ini tiba-tiba berinisiatif memotret kami, setelah indy dan emy beritahu kalau ternyata mas-mas ini adalah mas-mas penjaga loket.



Kami pun tidur sangat lelap malam itu. Berharap perjalanan esok ketika membuka mata kami sudah berada di kuala lumpur.


*bersambung
*masih panjang

April 16, 2012

4. Gulai dituang: bagian kedua


Waktu menunjukkan pukul 6, kereta akan berangkat pukul 10.30. Jadi kami punya waktu yang cukup lama untuk sekedar bercengkrama dengan mas-mas penjaga loket di stasiun. Di saat duduk manis manja di kursi stasiun, ada seorang bapak yang sudah agak tua yang sepertinya bekerja di stasiun itu, beliau memberikan banyak bantuan kepada kami. Untuk selanjutnya sebut saja, babe. Awalnya Emy menanyakan di mana tempat sholat, beliau dengan ramah menunjukkan tempat yang sebenarnya bukan untuk umum untuk sholat. Babe dengan bahasa inggris dicampur melayu yang patah-patah selalu menjawab pertanyaan kami dengan super duper ramah. Walaupun kami harus menyerna dengan seksama apa maksud ucapan beliau.
Selesai sholat magrib, kami duduk-duduk lagi. Kemudian kami ingin makan tapi tidak tahu di mana tempat makan di dekat sini. Ingin bertanya pada si babe tapi kami takut kalau babe terlalu ramah dan baik sampai mengantar kami ke rumah makan dengan truk bak terbuka. Tapi mau bertanya sama siapa lagi. Di sini cukup sepi. Mas-mas penjaga loket sibuk melayani pembeli. Emy dan indy sempat googling mencari rumah makan muslim di daerah woodland. Tapi akhirnya kami pun bertanya juga sama si babe. Ternyata oh ternyata tempat makan sangat dekat, tinggal menyebrang di lampu merah di depan. Kami pun riang gembira berpamitan sama babe. Babe berpesan, kalian makanlah pelan-pelan, baik-baik, nanti jam 9.45 kembali ke sini. Kalau lampu tanda menyebrang masih merah, jangan menyebrang. Si babejuga berpesan kalau mau menitipkan barang juga bisa, ada locker. Tapi kami memilih untuk membawa semua barang-barang kami karena berisi ipad, DSLR mahal dan uang berjuta-juta.





Ternyata benar, food court makanan muslim tidak jauh dari stasiun. Kami tinggal menyebrang kemudian berjalan sedikit, hanya saja jalnnya agak menanjak. Langsung lah kami memesan makanan karena sudah sangat lapar. Saya memesan mie hongkong, emy nasi goreng sea food dan indy tom yam.

Setelah makan, kami kembali ke loket. Di kursi tunggu depan loket sudah agak ramai. Kami duduk-duduk lagi. Sang babe sibuk bercakap-cakap ramah bersama calon penumpang yang lain. Beliau memang tipe yang sangat supel pada siapa saja dan memiliki jiwa menolong yang tinggi. Kami langsung menggelar kegiatan mencharger sambil duduk-duduk di situ. Ada satu ruangan khusus, seperti ruangan tunggu VIP. Tidak ada pengunjung yang duduk di situ. Karena memang sangat sepi. Terdapat sofa yang empuk, banyak colokan dan ada wastafel. Kami tak berani masuk padaal berulang kali babe menyuruh kami menunggu di dalam. Tapi kami tidak mau pengunjung yang lain iri karena babe pilih kasih (oke agak lebay). Kami pun bertahan  duduk di tempat duduk yang biasa. Namun karena udara sangat dingin, indy dan emy beberapa kali masuk ke ruangan tersebut. Indy bahkan sempat tidur-tiduran. muahahha.


Kami sempat menawarkan babe kue cheeseroll, tapi babe menolak. Babe bilang kalau ia habis oprasi, jadi tidak bisa makan kue tersebut. 
Indy yang ternyata nggak enak badan mengajak saya ke toilet, tumben. Biasanya saya yang sering minta ditemani ke toilet. Saya pun menemani indy. Untuk masuk ke toilet harus menekan bel dan menunggu petugas membukakan pintu. Kami harus melewati ruangan private karyawan di sana. 
tingtong...
Saya dan Indy menunggu pintu dibuka. Sang petugas melongok dari pintu yang bagian atasnya kaca. Indy kaget, karena tempat itu sangat sepi dan gelap. Saya sempat menangkap sang petugas hampir tertawa melihat ekspresi terkejut Indy. Namun kemudian sang petuga yang tinggi besar menjaga wibawanya, ia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.
Kami duduk manis lagi sambil menunggu jam 10 kurang 15 untuk antre di imigrasi. Di kursi sebelah terdapat seorang Bapak yang sudah tidak muda lagi, duduk dengan asiknya sambil ngulet-ngulet, nguap karena mungkin sudah bosan menunggu. Lucunya, di sebelah bapak tersebut ada pintu yang otomatis terbuka kalau menangkap ada sensor manusia (apasi). Pokoknya yang pintu kaya di mall-mall yang otomatis terbuka kalau ada orang yang mau masuk/keluar. Dan si Bapak pun tidak menyadari, kalau setiap dia bergerak, itu pintu terbuka terus, menutup, lalu terbuka lagi. Kami tertawa terbihik bihik
Jarum jam sudah menunjuk pukul setengah 11, kami berinisiatif untuk mulai antre di imigrasi. Sayangnya, saat kami akan meninggalkan loket menuju bagian imigrasi, babe tak ada. Jadi kami tak sempat pamitan. 
Kami ikut mengantre dengan seksama bahkan saya ketiduran
Saya dan Emy mengatri di satu antrean yang sama jadi kami bertemu dengan petugas yang sama. Petugasnya ramah sekali, laki-laki, cakep dan muslim. 
Petugas yang mencap paspor Indy juga sangat ramah. Seorang bapak yang menyangka Indy masih study. Dan sedikit tercengang mengetahui kalau Indy sudah bekerja di parlemen. prikitiw. 
Saat sedang menunggu lagi setelah dari bagian imigrasi, sang bapak petugas mengajak kami mengobrol. Berhubung yang paling dewasa adalah Emy, jadi biarlah Emy yang beramah tamah dengan bapak itu. Dan lagi-lagi bapak itu bilang kalau kami lagi liburan sekolah. Dan lagi-lagi sedikit terkejut mengetaui kalau Emy bahkan seorang lecturer


ashrynovia's blog Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Ipietoon Template