Pages

20/04/12

6. Pria Penjaga Loker

Sayup-sayup saya mendengar cekikian Indy dan Emy menertawakan kejadian tadi malam. Saya pun terbangun dengan pemandangan gunung dan kebun di jendela. Pemandangan yang hampir sama seperti ketika saya pulang kampung ke Solo dengan kereta Senja Utama. Ternyata hari sudah pagi.
Gerbong ini sangat sepi, mungkin cuma ada 4 orang selain kami. Namun ketika sampai di stasiun apa namanya, penumpang sudah mulai banyak. Mungkin ibaratnya, itu sudah masuk di daerah Bogor kalau kita mau ke Jakarta. Banyak orang yang bekerja menggunakan kereta menuju Kuala Lumpur. Mungkin ya, soalnya nggak sempet nanya-nanya juga sama penumpang yang lain. Agak gengges ya.
Kami sempat membahas bagaimana keadaan di Jakarta. Karena kami mendapat informasi dari beberapa twit dan status bbm juga sms dari keluarga kalau kemarin di jakarta ada demo lumayan besar. Tak lupa kami berdoa semoga keluarga dan teman-teman kami di Jakarta selalu dilindungi Allah.
Dan akhirnya sampailah kita di KL Sentra pukul 9 kurang sedikit. Begitu sampai, di bawah tanah. Agak gimana gitu  sepi dan tidak terang. Kami langsung mencari jalan keluar, dan akhirnya menemukan lift.
Tujuan utama kami adalah shower room. Di itinerary yang indy buat, sudah tertera dengan detil di mana letak shower room dan biayanya.
Setelah bertanya kepada seseorang, sampai juga di shower room.
Ruangan mandinya ternyata cukup nyaman, kira-kira ada 4 kamar mandi, 2 toilet dan 3 ruangan ganti. Ruangan gantinya seperti kamar ganti di mall. Jadi kami bisa menyimpan barang-barang kami dan mengunci ruangan tersebut saat kami mandi. Di sana juga terdapat pengkhidmatan menggosok atau tempat menyetrika, biayanya 3 ringgit. Kalau mandi biayanya 5 ringgit.

Rasanya segar sekali mandi pagi itu. Kami berkemas. Oya, kami berniat menggunakan loker agar kami tidak perlu membawa semua barang-barang kami selama jalan-jalan di kuala lumpur dan thailand nanti. Walaupun mengurangi nilai kebackpackeran, kami bertekad menitipkan saja. Dan semakin menghargai para backpacker sesungguhnya yang kemana-mana membawa backpack yang tidak ringan. Jadi kami pilih pilah lah barang apa saja yang harus dibawa dan mana yang tidak perlu. Tetep aja, udah dipilih sedemikian rupa, ransel ini masih tidak ringan juga. Kami menelisik lebih dalam apa yang menyebabkan tas kami masih belum ringan juga. Tas saya, sepertinya karena membawa kamera. Kalau tas Indy karena ada sekotak cheese roll yang belum habis. Sekotak kue itu yang dari kemarin Indy ingin enyahkan dari tasnya. Karena kami juga tak sanggup menghabiskannya. Kemarin ia ingin memberikan pada babe tapi babe menolak. Kami pun berniat memberikan kepada orang lain tapi belum ketemu orang yang tepat.

Setelah dandan ciamik oke punya ala bekpeker modis, kami meninggalkan shower room. Dengan tak lupa mengucapkan kepada petugas, terima kasih.

Tujuan selanjutnya adalah locker. Kami harus menitipkan backpack kami di loker. Loker-loker berderet rapi di sepanjang lorong stasiun, di dekat musola, toilet dan shower room. Ada loker sedang 5 ringgit, ada juga yang besar 10 ringgit.

Seorang pria tegap berperawakan seperti bang tigor, mendekati kami ramah.
"Nak nitip barang?"
Kami mengangguk.
"10 ringgit 1 hari"
"Kami ingin menyewa 2 hari"
"2 hari?jumat....sabtu? 20 ringgit..." ucapnya ramah.

"Kayanya 3 hari deh..? iya nggak sih? kita dari Hat Yai jam berapa?" ucap saya.
"iya ya? coba itung lagi..." ucap Emy. "iya kayanya 3 hari aja, biar aman" lanjut Emy.
"3 hari..."Ucap Emy kepada pria penjaga loker.
"3 hari? jumat, sabtu, ahad?" ucapnya memastikan.
"Ya...." ucap kami meyakinkan.
Kemudian kami masukkan semua barang-barang kami. Dan memastikan tidak ada barang penting yang belum dibawa. Semua gadget, uang cash dan segala dokumen penting telah kami pastikan terbawa. Kesannya banyak banget padahal x))))
"Sudah masuk semua? paspor?" Ucap pria penjaga locker.
Kami mengangguk.
"ayo ikut saya... saya kasih receipt."
Kami pun mengikuti pria ini.
Kami diantarkan ke meja informasi yang terletak di tengah-tengah. Emy bertanya-tanya mengenai kereta ke Hat Yai. Kami disarankan untuk langsung bertanya ke loket penjualan tiket.
****
Dulu sekali, sewaktu SD. Saya pernah belajar bahasa gagigu karena teman-teman saya sekelas mendadak bicara menggunakan bahasa itu. Bahasanya itu segepegertigi iginigi. Awalnya agak nggak bisa, nggak mudeng blas. Tapi setelah beberapa hari mempraktekan langsung, dengan mengajak adik saya sebagai lawan bicara. Akhirnya saya lancara menggunakan bahasa isyarat tersebut. Dan ternyata, bahasa ini justru yang  saya, emy dan indy gunakan untuk berkomunikasi jika ingin pembicaraan kami tidak dimengerti oleh orang lain. 

"Yagaugudagah, kigitaga kege tegermiginagal agajaga dugulugu" Ucap Emy sedikit memberi harapan ketika mengetahui tiket kereta ke Hat Yai malam ini sudah habis terjual. 
"yagaugudagah gigitugu agajaga" 

Kami pun melangkah gontai meninggalkan loket penjualan tiket. Bukan karena kehabisan tiket, tapi karena perut lapar. Kami berjalan menuju food court yang bahasa Malaysianya adalah Medan Selera. Kami ingin makan dulu, mengisi energi dan berdoa semoga nanti kami mendapatkan tiket bis menuju Hat Yai malam ini. Di sini kami agak ragu dengan jadwal dan rencana yang telah kami buat,  indy yang membuat itinerary tanpa revisi sama sekali dan tidak ada plan A B apalagi Z. Masih banyak kemungkinan yang berubah. Atau bahkan perubahan tujuan tempat atau bahkan hanya menghabiskan waktu di kota ini sampa 3 hari ke depan. Tapi kami tak sempat berfikir rumit, kami hanya berfikir untuk makan yang banyak dulu, mikirnya nanti aja. heheee

Oh ya, kami berkenalan dengan ibu yang bekerja sebagai pelayan di Medan Selera yang berasal dari Indonesia, namanya ibu Azizah. Kami bertanya kepada beliau bagaimana menuju terminal Pudu Raya. Dan jawaban ibu Azizah yang kami jadikan acuan menuju terminal besar di kota tersebut. 


*bersambung 



18/04/12

5. Gulai dituang sesungguhnya

Setelah menunggu kereta agak lama sambil terkantuk-kantuk, kami diperkenankan masuk juga. Dengan gegap gempita seperti anak kecil yang baru pertama kali naik kereta kami memilih kursi karena kursinya masih bebas, belum ada nomernya.

Kami atau mungkin hanya saya ketiduran menuju Kulai. Sebenarnya nggak tenang juga, karena kami sadar kalau nanti di tengah perjalanan akan dibangunkan. Sedang ngantuk-ngantuknya. Saya tidur dengan selimut kain bali saya dan pakai kaus kaki biar hangat, bahkan menggunakan kardigan juga.

Akhirnya sampai juga di kulai. Dengan tergopoh-gopoh kami mengikuti penumpang lain ke bis. Rasanya seperti mimpi, sungguh. Saya yang masuk bis paling belakang, menurut saja ketika Emy menunjukkan kursi kosong di depannya. "Sini neng.."
Seorang pria muda berkulit putih duduk di sebelah saya. Tanpa memperhatikan wajahnya, saya pun langsung terlelap melanjutkan mimpi saya. Indy pun  juga sama, setelah diberi instruksi Emy duduk di sebelah seorang bapak bertubuh besar, indy langsung tidur dengan pulas.
Berkali-kali terbangun karena bis berjalan sungguh cepat, ke kanan ke kiri, ngerem, ciiiiiiiiiiiiiit. Saya hanya berdoa semoga selamat, pasrah. Bis itu tertutup, langit-langit bis full karpet merah bintang-bintang. Diiringi lagu syahdu melayu semakin mirip studio musik. Kantuk yang sangat tak tertahankan, tidak memberikan tempat untuk lamunan saya kenapa saya bisa ada di situ malam itu atau bahkan berfikir yang bukan-bukan. Yang saya harapkan hanya selamat sampai tujuan. Dan ketika saya terbangun, saya menoleh ke sebelah. Penumpang di sebelah saya ini sepertinya seger-seger aja nggak ngantuk sama sekali. Saya pun melanjutkan tidur saya lagi.

Alhamdulillah, walaupun sering tertidur tapi kami selalu dibangunkan oleh Allah di waktu yang tepat. Kemudian sampai juga di Kluang. Masih sangat mengantuk, kami harus oper ke kereta. Kejadiannya mirip persis dengan kalau saya naik bis ke kantor terus di oper. Bawaannya pengen buru-buru. Entah seperti apa waktu itu saya yang memakai kain bali dan 2 tas lari-lari kecil turun bis. Entah mengapa, yang ada dikepala saya, seperti superman membawa ransel.
Malam itu kami tak sempat mendokumentasikan kegiatan transmigrasi tersebut. Waktunya terlalu cepat, dan hari sudah sangat malam. Kami sampai di stasiun Kluang, saya melihat papan sederhana bertuliskan KLUANG. Kiri kanan stasiun sepertinya kebun-kebun. Sepi. Hanya ada beberapa petugas berjaga. Saya yang jalan paling belakang mengikuti saja ke mana Indy dan Emy berjalan.
Dan kami pun masuk di gerbong yang tidak tepat. Kami malah masuk di gerbong tempat tidur. Gerbongnya sangat dingin. Untung kami tidak membeli tiket di gerbong itu, padahal mah emang nggak mampu. Kanan kiri terdapat tempat tidur tingkat. Saya membayangkan betapa nyamannya kasur-kasur itu.
Indy yang berjalan paling depan jejeritan karena gerbong yang kami lalui buntu, di ujung hanya ada toilet. Kami harus pindah gerbong sebelum kereta jalan. Dan gerbong ini tertutup jadi kami tidak bisa menyusuri gerbong dari dalam melainkan harus turun keluar kereta. Kami berjalan tidak tergesa-gesa, karena kereta sudah mulai penuh dengan orang-orang yang juga sibuk mencari kursinya. Bawaan kami dan penumpang lainnya pun banyak. Jadi kami tidak bisa berlari maraton di dalam gerbong walaupun sangat ingin.
Saya yang tadinya berjalan paling belakang bergantian menjadi paling depan karena kami berbalik arah.
Seorang nenek yang sudah tidak belia lagi masuk gerbong perlahan. Kami melambatkan langkah. Dua belas du wa be las du wa belas... Sang nenek menyebut-nyebut nomer kursinya. Kami bukannya membantu malah mematung diam menunggu sang nenek minggir sedikit saja. Setelah di bantu menemukan nomer kursinya, sang nenek tak lekas juga berbaring. Waktu seperti berhenti sepersekian detik. Akhirnya nenek minggir juga. Kami ngebut.


Setelah bertanya pada petugas, kami masuk ke gerbong yang benar. Alhamdulillah. Kami mencari kursi yang sesuai dengan tiket. Gerbong yang kami tempati sangat sepi. Kami langsung foto-foto sebelum bergegas tidur.
Ternyata petugas penjaga loket ada di situ, dan dengan inisiatif tinggi membantu kami mengambil gambar Sebenernya sih saya nggak ngeh sama pria ini, yah seperti biasa saya mah kalo nggak tidur ya ga ngeh-an orangnya. Saya cuma tahu orang ini tiba-tiba berinisiatif memotret kami, setelah indy dan emy beritahu kalau ternyata mas-mas ini adalah mas-mas penjaga loket.



Kami pun tidur sangat lelap malam itu. Berharap perjalanan esok ketika membuka mata kami sudah berada di kuala lumpur.


*bersambung
*masih panjang

16/04/12

4. Gulai dituang: bagian kedua


Waktu menunjukkan pukul 6, kereta akan berangkat pukul 10.30. Jadi kami punya waktu yang cukup lama untuk sekedar bercengkrama dengan mas-mas penjaga loket di stasiun. Di saat duduk manis manja di kursi stasiun, ada seorang bapak yang sudah agak tua yang sepertinya bekerja di stasiun itu, beliau memberikan banyak bantuan kepada kami. Untuk selanjutnya sebut saja, babe. Awalnya Emy menanyakan di mana tempat sholat, beliau dengan ramah menunjukkan tempat yang sebenarnya bukan untuk umum untuk sholat. Babe dengan bahasa inggris dicampur melayu yang patah-patah selalu menjawab pertanyaan kami dengan super duper ramah. Walaupun kami harus menyerna dengan seksama apa maksud ucapan beliau.
Selesai sholat magrib, kami duduk-duduk lagi. Kemudian kami ingin makan tapi tidak tahu di mana tempat makan di dekat sini. Ingin bertanya pada si babe tapi kami takut kalau babe terlalu ramah dan baik sampai mengantar kami ke rumah makan dengan truk bak terbuka. Tapi mau bertanya sama siapa lagi. Di sini cukup sepi. Mas-mas penjaga loket sibuk melayani pembeli. Emy dan indy sempat googling mencari rumah makan muslim di daerah woodland. Tapi akhirnya kami pun bertanya juga sama si babe. Ternyata oh ternyata tempat makan sangat dekat, tinggal menyebrang di lampu merah di depan. Kami pun riang gembira berpamitan sama babe. Babe berpesan, kalian makanlah pelan-pelan, baik-baik, nanti jam 9.45 kembali ke sini. Kalau lampu tanda menyebrang masih merah, jangan menyebrang. Si babejuga berpesan kalau mau menitipkan barang juga bisa, ada locker. Tapi kami memilih untuk membawa semua barang-barang kami karena berisi ipad, DSLR mahal dan uang berjuta-juta.





Ternyata benar, food court makanan muslim tidak jauh dari stasiun. Kami tinggal menyebrang kemudian berjalan sedikit, hanya saja jalnnya agak menanjak. Langsung lah kami memesan makanan karena sudah sangat lapar. Saya memesan mie hongkong, emy nasi goreng sea food dan indy tom yam.

Setelah makan, kami kembali ke loket. Di kursi tunggu depan loket sudah agak ramai. Kami duduk-duduk lagi. Sang babe sibuk bercakap-cakap ramah bersama calon penumpang yang lain. Beliau memang tipe yang sangat supel pada siapa saja dan memiliki jiwa menolong yang tinggi. Kami langsung menggelar kegiatan mencharger sambil duduk-duduk di situ. Ada satu ruangan khusus, seperti ruangan tunggu VIP. Tidak ada pengunjung yang duduk di situ. Karena memang sangat sepi. Terdapat sofa yang empuk, banyak colokan dan ada wastafel. Kami tak berani masuk padaal berulang kali babe menyuruh kami menunggu di dalam. Tapi kami tidak mau pengunjung yang lain iri karena babe pilih kasih (oke agak lebay). Kami pun bertahan  duduk di tempat duduk yang biasa. Namun karena udara sangat dingin, indy dan emy beberapa kali masuk ke ruangan tersebut. Indy bahkan sempat tidur-tiduran. muahahha.


Kami sempat menawarkan babe kue cheeseroll, tapi babe menolak. Babe bilang kalau ia habis oprasi, jadi tidak bisa makan kue tersebut. 
Indy yang ternyata nggak enak badan mengajak saya ke toilet, tumben. Biasanya saya yang sering minta ditemani ke toilet. Saya pun menemani indy. Untuk masuk ke toilet harus menekan bel dan menunggu petugas membukakan pintu. Kami harus melewati ruangan private karyawan di sana. 
tingtong...
Saya dan Indy menunggu pintu dibuka. Sang petugas melongok dari pintu yang bagian atasnya kaca. Indy kaget, karena tempat itu sangat sepi dan gelap. Saya sempat menangkap sang petugas hampir tertawa melihat ekspresi terkejut Indy. Namun kemudian sang petuga yang tinggi besar menjaga wibawanya, ia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.
Kami duduk manis lagi sambil menunggu jam 10 kurang 15 untuk antre di imigrasi. Di kursi sebelah terdapat seorang Bapak yang sudah tidak muda lagi, duduk dengan asiknya sambil ngulet-ngulet, nguap karena mungkin sudah bosan menunggu. Lucunya, di sebelah bapak tersebut ada pintu yang otomatis terbuka kalau menangkap ada sensor manusia (apasi). Pokoknya yang pintu kaya di mall-mall yang otomatis terbuka kalau ada orang yang mau masuk/keluar. Dan si Bapak pun tidak menyadari, kalau setiap dia bergerak, itu pintu terbuka terus, menutup, lalu terbuka lagi. Kami tertawa terbihik bihik
Jarum jam sudah menunjuk pukul setengah 11, kami berinisiatif untuk mulai antre di imigrasi. Sayangnya, saat kami akan meninggalkan loket menuju bagian imigrasi, babe tak ada. Jadi kami tak sempat pamitan. 
Kami ikut mengantre dengan seksama bahkan saya ketiduran
Saya dan Emy mengatri di satu antrean yang sama jadi kami bertemu dengan petugas yang sama. Petugasnya ramah sekali, laki-laki, cakep dan muslim. 
Petugas yang mencap paspor Indy juga sangat ramah. Seorang bapak yang menyangka Indy masih study. Dan sedikit tercengang mengetahui kalau Indy sudah bekerja di parlemen. prikitiw. 
Saat sedang menunggu lagi setelah dari bagian imigrasi, sang bapak petugas mengajak kami mengobrol. Berhubung yang paling dewasa adalah Emy, jadi biarlah Emy yang beramah tamah dengan bapak itu. Dan lagi-lagi bapak itu bilang kalau kami lagi liburan sekolah. Dan lagi-lagi sedikit terkejut mengetaui kalau Emy bahkan seorang lecturer


10/04/12

3. Gulai dituang: dari Singapura ke Malaysia dengan kereta: bagian pertama



Masjid merupakan salah satu tempat yang saya sukai ketika mengunjungi suatu tempat. Terlebih lagi di luar negeri. Ataupun tempat yang muslimnya bukan kaum mayoritas.  Dan yang paling saya suka, di masjid biasanya terdapat banyak air. Jadi bisa sekalian cuci muka atau bahkan mandi. Masjid juga tempat yang nyaman untuk istirahat, berdoa, bersyukur telah sampai ke tempat yang belum pernah saya kunjungi, berdoa lagi supaya bisa mengunjungi tempat ini lagi, hehe..




Siang itu, setelah bertemu dengan Emy di Esplanaide station,  tujuan kami adalah ke masjid di daerah Ang Mio Kio. Indy dan Emy yang sudah pernah sebelumnya kesana meyakinkan bahwa masjid itu tempat yang sangat nyaman. Setelah menaiki MRT kurang lebih 30 menit, sampailah kami ke masjid yang Indy dan Emy maksud. Benar saja, masjidnya sangat nyaman dan lumayan besar. Saat itu hujan sedang turun sangat deras, jadi kami sekalian berteduh di sana, sekalian numpang mandi.
Setelah hujan mulai reda, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Jalanan masih basah sisa hujan barusan. Kami merasa sangat segar enerjik dan cantik karena sudah mandi. Tujuan kami berikutnya adalah woodland checkpoint untuk membeli tiket kereta ke Kuala Lumpur. Kami menggunakan MRT sampai ke Woodland, lalu melanjutkan dengan naik bis nomer 911 yang melewati woodland check point. Apa karena abis hujan, woodland begitu memesona sore itu, hehee.
Sesampainya Woodland Checkpoint, Emy langsung mengecek ke loket apakah tiketnya masih ada untuk ke Kuala Lumpur malam ini. Ternyata alhamdulillah masih ada. Kami pun membeli 3 tiket kereta Senandung Sutra seharga 35 SGD. Kami memilih gerbong yang duduk karena lebih murah. Karena ada juga gerbong yang kasur. Karena ada gangguan, kami diberitahu sang petugas kalau nanti kami harus menyambung perjalanan dengan bis kemudian naik kereta lagi. Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain kami oke saja. Dan kami pun membayangkan betapa repotnya nanti lagi tidur nyenyak-nyenyak di oper ke bis lalu ke kereta lagi. Sang petugas bilang, nanti kereta sampai di Kulai, lanjut naik bis sampai ke Kluang. Dari Kluang kami melanjutkan lagi dengan kereta. Dan Indy pun menyebut Gulai dituang agar kami mengingat nama daerah yang asing itu.


*bersambung

2. Merlion: awal perjalanan singkat ke tiga negara: bagian kedua

Jam menunjukkan pukul 06.00 waktu singapura. Saya dan indy sudah siap untuk memulai perjalanan yang telah kami rencanakan 3 bulan sebelumnya. Kami menyusuri bandara mencari pintu keluar dan bagian imigrasi. Ketika ingin menanyakan ke bagian informasi, sang petugas informasi sedang sibuk memberikan kereta bayi untuk salah seorang pengunjung. Tidak hanya kereta bayi, tapi juga selimut. Pelayanan publik di bandara ini memang excellence.

Kami melewati bagian imigrasi, sang petugas amat ramah. Beliau langsung menyapa saya dengan bahasa Indonesia.
"Ashry Noviana?"
Saya mengangguk.
Dari mana? ucapnya.
"Jakarta..." Ucap saya.
Sang petugas meminta boarding pass untuk mencatat flight saya. Dan kemudian saya menjelaskan kenapa saya bisa ada di terminal 3. Saya ucapkan jujur, semalam kemalaman dan kami mencari tempat yang ramai. Sang petugas percaya dan pengertian juga tampan. Setelah memastikan beberapa kali kalau barang bawaan saya tidak ada yang tertinggal di bagasi beliau mempersilahkan saya pergi.
Setelah uusan imigrasi selesai, saya dan indy mencari stasiun MRT. Seorang ibu yang sangat baik di bagian informai menunjukkan arah kepada kami.

"You see biru.. biru... then turn right...." Ucapnya sambil memastikan kami memahami ucapannya dengan menunjukkan papan pengumuman berwarna biru.
Kami mengangguk kemudian mengucapkan, "thank you".

Sampailah kami di stasiun MRT. Di sinilah saya mulai melihat wajah singapura. Semua orang berjalan sangat cepat, eskalator berjalan cepat, MRT pun melaju sangat cepat. Berhubung kunjungan saya yang pertama ke negara ini edisi travel, jadi saya belum pernah naik MRT. Dan sama sekali MRT iliterate. Untunglah sahabat saya yang sangat tanggap teknologi ini masih ingat bagaimana cara membeli tiket di MRT. Bahkan dia sempat mengajarkan ke bapak yang berasal dari india untuk membeli tiket di mesin pembelian tiket.

Tadinya kami ingin membeli tiket STP (Singapore Tourist Past). Tapi ternyata loket STP baru dibuka pukul 12 siang. Kami kemudian membeli tiket MRT secara ngeteng. Tujuan pertama kami adalah Esplanaide. Indy dengan sigap mengajari saya bagaimana cara menggunakan mesin pembelian tiket dengan sebelumnya menukarkan uang di loket penukaran uang. Setelah mendapatkan tiket, kami pun menunggu duduk manis  menunggu MRT tiba. Kemudian MRT pun tiba.

Akhirnya kami sampai juga di Esplanaide, dengan sebelumnya sempat nyasar balik lagi ke Changi. Dengan bermodalkan petunjuk arah yang patut diacungi jempol, kami menyusuri jalan mencari Merlion. Sebenarnya agak salah jalan ya kami ke Merlion turun di Esplanaide. Tapi tidak mengapa, hitung-hitung menghirup udara pagi singapura yang masih sepi.

Kami menemukan bangku, kemudian kami memutuskan untuk sarapan di situ. Dengan sedikit ragu, kami membuka bekal kami apakah masih layak dimakan atau tidak. Ternyata alhamdulillah, karena semalam kami seperti tidur di kulkas, makanan kami masih enak dan tidak basi. Terima kasih mama, yang sebelum saya berangkat bersikukuh untuk membelikan ayam goreng untuk saya. Dan kami pun makan dengan lahapnya. Karena semalam kami hanya makan somay yang indy bawa.

Setelah cukup kenyang kami melanjutkan perjalanan mencari Merlion. Berharap agar Merlion masih sepi agar kami bisa puas foto-foto. Belum sampai Merlion, masih disebrangnya, kami melihat Merlion sudah sangat ramai. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk saja.

Setelah tenaga kembali terkumpul, kami melanjutkan perjalanan mendekati Merlion yang masih ramai. Mentari pagi itu cukup menyengat membuat kami tidak nyaman berlama-lama di dekat Merlion. Banyak turis Indonesia juga waktu itu. Indy bilang, "kaya di Bandung aja ya bebs". Saya bilang iya, dan masih memikirkan betapa randomnya kami di antara kerumunan turis pagi itu.

Kami kemudian mencari uncle ice cream yang katanya enak itu. Akhirnya ketemu juga, kami pun membeli. Setelah es krim habis, kami foto-foto, kemudian ke Merlion lagi yang ternyata sudah  agak sepi.

Konon katanya, backpacker yang oke adalah backpacker yang pergi dengan tidak terlalu banyak rombongan. Bahkan solo backpacker. Berhubung saya masih pre basic di dunia perbackpackeran, maka saya belum berani pergi melanglang buana seorang diri. Dan pada backpackeran perdana saya ini, saya pergi dengan Indy. Tapi tidak hanya dengan Indy, tapi dengan Emy. Jadi kami pergi bertiga dengan penerbangan yang berbeda. Saya dengan Indy, dan Emy seorang diri.

Indy mengajak saya memesan tiket di akhir bulan Januari. Mungkin saat itu otak kanan saya sedang dominan. Saya setuju-setuju saja walaupun nggak punya duit, apalagi perginya ke Kuala Lumpur yang saya belum pernah. Indy bilang akan pergi dengan Emy temannya. Saya pun setuju. Saya sudah tau, resiko rencana pergi bertiga, bisa jadi hanya akan pergi berdua, atau mungkin malah sendiri. Waktu itu bismillah saja, sambil terus berdoa semoga Allah mengizinkan rencana trip ini terwujud.

Sambil menunggu Emy tiba, saya dan Indy menghabiskan waktu di daerah itu saja. Merlion dan sekitarnya. Hingga akhirnya kami ketiduran di tepi sungai, di bawah pohon rindang. Ketika bangun, indy memberitahu saya kalau kami harus kembali ke Esplanaide station untuk bertemu dengan Emy. Baiklah, kami pun berjalan kembali ke posisi awal, Esplanaide.

di depan sungai ini kami ketiduran

. *bersambung

08/04/12

1. Merlion: awal perjalanan singkat ke tiga negara: bagian pertama


Di siang yang cukup terik itu, saya duduk menepi di sebuah tempat yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. Merlion, sebuah patung  berkepala singa dengan badan seperti ikan. Namanya merupakan gabungan dari ikan duyung (mermaid) dan singa (lion). Yang saya dengar dari  seorang tour guide ketika saya mengunjungi kota ini tahun 2009, merlion merupakan simbol dari negara singapura yang dulunya merupakan daerah nelayan dan di daerah ini juga banyak ditemukan singa. Dari wikipedia saya menemukan informasi bahwa Merlion dirancang oleh Fraser Brunner untuk Badan Pariwisata Singapura (STB) pada 1964 dan dipergunakan sebagai logonya hingga 1997. Perdana Menteri saat itu, Lee Kuan Yew, meresmikan upacara pemasangan Merlion di Singapura pada 15 September 1972  (http://id.wikipedia.org/wiki/Merlion).  


Saya yang sudah sedikit kelelahan karena membawa ransel yang tidak ringan ini, hanya duduk memandangi orang lalu lalang di sekitar saya. Ada segerombolan pelajar yang sedang study tour. Ada seorang nenek yang sibuk mengambil gambarnya sendiri dengan background patung raksasa  itu. Hingga akhirnya ia kewalahan dan mungkin tidak berhasil mengambil gambar dengan komposisi yang ia inginkan, ia meminta tolong seorang pria yang sedang berada di dekatnya untuk mengambil gambarnya. Saya kemudian sibuk menyesuaikan kamera saya, agar menghasilkan gambar yang bagus. Mencoba sesekali mengambil gambar namun sepertinya settingan kamera ini belum pas juga. Akhirnya saya pasang auto fokus sajalah daripada repot. 


Beberapa langkah dari saya, seorang wanita seusia dengan saya juga sedang sibuk sendiri dengan notesnya, indyamitha. Ya, saat itu saya sedang berdua dengan sahabat saya, indy. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, kami sering melakukan hal-hal random. Saat itu pun demikian. Di saat banyak orang mendemo kantor indy karena harga BBM yang akan naik, di saat beberapa rekan kerja saya sedang berjuang untuk tes mendapatkan beasiswa master. Saya dan indy duduk nyaman di tepi danau sunyi, dengan berbagai macam orang lalu lalang. Di negeri yang saya dan indy belum begitu paham bagaimana medannya. 

bobok di kursi changi airport
Kami menginjakkan kaki di singapura pada rabu malam, kira-kira pukul 23.00. Hari sudah sangat larut, kami tidak berani keluar untuk mencari taksi. Kami pun menginap di bandara. Random, ya kami sangat random. Dengan berbekal informasi dari berbagai blog, kami berani untuk menginap di bandara megah itu. Kami menyusuri bandara, mencari tempat yang agak ramai. Untungnya, kami bisa menggunakan troli, jadi amat sangat meringankan beban kami malam itu.  Ternyata banyak juga turis yang bermalam di sana. Tidur di kursi-kursi yang tersebar di berbagai tempat. Akhirnya kami menemukan tempat yang kami rasa cukup nyaman untuk beristirahat malam ini. Indy sibuk mengoles-oles minyak telon di sekujur tubuhnya. Mungkin itu memang ritualnya sebelum tidur. Dan saya pun langsung terlelap walaupun suhu ruangan di tempat itu sangat dingin. Tanpa basa basi dan melupakan ritual sebelum tidur, dengan ransel saya jadikan bantal, dengan tas yang masih saya kalungkan, dengan berselimutkan kain bali yang saya beli di jogja, saya pun terlelap dengan berdoa sebelumnya, singkat. Beruntunglah saya yang cukup mudah tidur di mana saja. Kira-kira pukul 4, saya terbangun dan melihat indy sedang duduk, entah apa yang ia pikirkan. Apakah mungkin ia homesick dan ingin  minta pulang, jangan sampai. Ternyata ia kedinginan. Dan beberapa saat kemudian ia ke toilet. Lama menunggu indy yang menghangatkan tubuh di pengering tangan, saya mengoleskan minyak kayu putih di telapak tangan dan kaki saya. Mungkin sudah hampir satu botol kecil saya habiskan. Saya melihat sekeliling, banyak orang yang tidur juga.  Tepat disebelah kursi saya, ada seorang wanita  yang sedang tidur hanya dengan mengenakan tank top. Petugas-petugas yang tidur di kursi lainnya juga tidak mengenakan jaket/selimut. Saya meringkuk lagi dengan kain bali yang saya bawa. 


Setelah kembali dari toilet, indy mengajak saya ke toilet lagi untuk cuci muka dan membenahi diri kami. Setelah ke toilet, kami mencari prayer room sambil menunggu waktu subuh. Ternyata saat itu di prayer room sedang ada rombongan umroh dari Indonesia yang sedang transit. Saya sempat bertegur sapa dengan jamaah Indonesia yang berasal dari pekalongan itu.  Sempat terlintas juga dibenak saya, kapan kah saya bisa seperti mereka. Pergi umroh atau naik haji. Terucap juga seutas doa, semoga dalam waktu yang dekat, amin. Suhu di prayer room sedikit hangat, mungkin karena banyak orang. Kalau saja di tembok tidak ada tulisan dilarang tidur dan makan, mungkin kami sudah tidur sampai pagi di sana. Setelah sholat subuh, saya dan indy menunggu beberapa saat untuk mengisi baterai handphone kami sebelum melanjutkan perjalanan. Memulai perjalanan tepatnya.


****



*bersambung