Pages

12/01/17

Musim Panas Waktu Itu

Adelaide, Mid January 2014.


Suhu udara kala itu sungguh tinggi, musim panas tengah mencapai puncaknya menurut prakiraan cuaca. Aku baru saja memindahkan koper dari kamarku sebelumnya ke kamar yang saat itu aku tempati. Entah kenapa, aku mendapat kamar yang sungguh berantakan, dan dengan beberapa orang laki-laki dari negara lain di kamar tersebut. Nggak sekamar sih, tapi satu dapur dan common room, kami punya kamar dan kamar mandi masing-masing.  Seorang staf tengah mengganti seprai kamar yang akan aku tinggali. Ruangannya pun seperti harus disapu dan dipel dulu. Aku lumayan terkejut dengan kondisi kamarku saat itu, so messy!. Walaupun dua orang pria yang ada di tempat tersebut menyambut ramah penghuni baru ruangan mereka, alias aku, aku sungguh ingin pindah kamar. Untungnya, mas Apid, teman barenganku mau aku minta untuk bertukar kamar. Oh, mas Apid sungguh baik sekali. Mungkin mas Apid masuk kategori Malaikat tak bersayap dalam hidupku. Aku bahagia banget bisa pindah ke kamarnya di tower sebelah, yang mana sebelahan dengan kamar mba Niken, teman barenganku juga dari Indonesia. Entah kenapa juga, sang resepsionis tidak memasangkanku dengan mba Niken, melainkan mba Niken dengan mas Apid.

Oke urusan pindah kamar selesai. Aku  mendapat kamar di lantai 26 kalau aku tidak salah ingat. Kamarnya sempit, typical apartment yang sebenarnya aku kurang begitu suka. Tapi, jendela kamar itu menghadap ke arah pantai yang jauh di ujung sana. Untungnya, tidak terlalu banyak gedung tinggi di kota ini, jadi pantai di sisi kota masih terlihat indah dari jendela kamarku yang ada di pusat kota. Aku membuka jendela, menikmati langit sore musim panas yang panjang. Begitu indah, ungu dan jingga jelas-jelas terlukis di ujung sana.



***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar